Mencari rute sepedahan di
Bogor, gampang-gampang susah, apalagi kalau peserta gowes terdapat
banyak “new bie” dengan jam genjot yang masih rendah. Maunya
melewati jalur datar beraspal yang tidak banyak motor tapi juga
tidak terlalu sepi karena “serem”, bukan jalur tanah yang
berlumpur alias “off road”, adem karena kiri kanan jalur
dipenuhi dengan pohon-pohon rindang yang mengalir sungai kecil
dengan air yang beriak, selain itu diharapkan tidak ada tanjakan
“ngehe” , syukur – syukur setiap 5 Km ada Mini mart , minimal
warung mie rebus semacam “mpok cafe” di Jalur JPG Serpong atau
Warung Bandrek Babe (Warban) , Dago Pakar yang terkenal sebagai
tempat nongkrongnya MTB-er Bandung .
Dengan seabrek syarat-
syarat yang “rumit” penulis mencoba browsing internet dan
akhirnya bersyukur mendapatkan info dari
http://gowes-ah.blogspot.com
kepunyaan
om Andy Harsanto, tentang jalur sepeda Cimahpar – Katulampa- Gadog
PP. Makasih om infonya......!!

Namun
demikian, rute om Andy tidak persis diikuti
,
bukan karena agak gengsi “nyontek” abis tetapi
keseringan
“nyasar” maklum agak susah menterjemahkan konsep peta diatas
kertas dengan kenyataan dilapangan , apalagi situasi sudah sedikit
berubah di beberapa tempat. Peta
hanya digunakan sebagai panduan dasar saja akan tetapi fungsinya
lebih banyak digantikan oleh petunjuk tukang ojek he...he...he.
boleh dicontoh (sangat efekftif, asal bertanya dengan sopan dan
pura-pura setengah mati kelelahan !! pasti dikasih unjuk jalan ). Titik
awal gowes dimulai dari Komplek Perumahan Bantar Jati Permai,
Bogor sebagai “base
camp” tepat
pukul 07.30 WIB, menuju jalan Pandawa Raya- Jalan Pandu melintas tepat diatas exit
pintu
tol Bogor Satelite, terusan antara
jalan lingkar luar Bogor dengan
Tol
Jagorawi lurus hingga mencapai batas terakhir jalan yang
sedang dicor
belok
kiri masuk diperempatan
perumahan Baranang
Siang Indah (BSI)
dan keluar menyusuri jalan Bantar Kemang. Jalur
awalan ini akan menjadi ujian pertama para “newbie” karena
sejak berangkat dari Komplek Bantar Jati Permai jalan menanjak
dengan kemiringan rendah namun cukup panjang dengan
hembusan angin yang cukup kencang
sampai akhir batas cor jalan beton di perempatan komplek BSI , namun
setelah itu jalan
relatif datar .
Menyusuri
Jalan Bantar Kemang , sepanjang
jalan ini
banyak
ditemui sejumlah tempat industri Tas Tajur yang terkenal, seperti
Stasiun Tas, PT
SKI
(Sumber
Karya Indah),
cocok
untuk tempat istirahat goweser wanita, sambil melepas penat ,
meluruskan kaki, sekaligus mampir belanja tas (
dijamin tidak akan sampai Katulampa karena terlalu asyik belanja).
Perjalanan
diteruskan hingga mencapai pertigaan
pertemuan antara Jalan Rambutan Raya dengan jalan Sokaraja,
belok kanan menyusuri
jalan aspal mulus persis
berada disebelah
kanan
kali kecil (terusan
Kalibaru)
hingga
sampai di pertigaan dimana terdapat musholla/masjid diatas kali
kemudian belok kearah kanan. Suasana
terasa
cukup asyik
namun
masih
kurang “adem” karena jalan
masih gersang hanya diapit
pemukiman penduduk yang
cukup padat, namun demikian semakin
lama
jalur akan
semakin menarik setelah mendekati perumahan Bogor River Side karena
mata
goweser
akan dimanjakan dengan pemandangan sungai
Kalibaru disebelah
sisi kiri yang
semakin
lebar namun tidak
terlalu dalam
sehingga
terlihat jelas riak-riak air dipermukaan sungai,
kesempurnaan keindahan
alam
pun bertambah karena
kiri
kanan jalan yang
sudah
mulai diwarnai
dengan kehijauan
pepohonan dan
ladang milik penduduk setempat
(pasti para “newbie” akan senang, apalagi sudah nampak ada
beberapa
warung mie rebus) sampai
berakhir di bendungan Katulampa. Seperti
pada umumnya kontur pegunungan yang berbukit dan berlembah, wilayah
sekitar Katulampa ini menyajikan pemandangan yang cukup
indah
dan asri namun sudah mulai di “intervensi” oleh pemukiman
sehingga
mulai terjadi polusi sampah “kota” seperti plastik, bungkus
biskuit, botol air kemasan , bungkus mie, deru sepeda motor, dsb


Setelah menempuh sekitar 9 Km dari titik start, di tempat ini para
goweser dapat beristirahat sebentar sambil menikmati pemandangan
Sungai Ciliwung dan Sungai Kalibaru dengan Bendungan Katulampanya,
membayangkan pertarungan antara kekuatan teknologi dengan kekuatan
alam Katulampa yang mampu mengubah Jakarta yang tenteram menjadi
wilayah bencana, tergantung mana yang kuat . Untuk menuju Gadog dari Katulampa, perjalanan dilanjutkan dengan
memilih melintas diatas dam Kalibaru, belok kanan menyusuri jalan
semen yang sempit persis di pinggiran pagar sungai Ciliwung
kira-kira 2 Km menuju persimpangan kolong Jalan Tol Jagorawi.
Sampai disini
goweser bisa memilih untuk belok kanan menyeberangi
jembatan kecil diatas sungai Ciliwung persis sejajar dibawah kolong
Tol Jagorawi atau lurus memotong kolong. Perjalanan dilanjutkan dengan memilih jalan lurus memotong kolong tol Jalan Jagorawi
menyusuri pinggir Sungai Ciliwung , masuk ke perkampungan penduduk . Selepas perkampungan jalur mulai menanjak menuju perbukitan Gadog ,
jalur aspal kombinasi dengan bebatuan karena aspal yang mulai
terkelupas, menyusuri hijaunya perbukitan yang “adem” diselingi
dengan beberapa rumah penduduk yang sudah mulai jarang. Di beberapa tempat tanjakan cukup tajam dengan elevasi kemiringan antara 30
o- 45
o
dan terpaksa harus tukar ke gir terbesar pada transmisi
belakang dan gir terkecil pada transmisi depan, itupun kalau masih
mampu gowes, bila tidak ….....ya terpaksa “tuntun” . Tanjakan-tanjakan di jalur ini tidak ada yang panjang , namun
dikombinasikan dengan turunan berselang seling cukup menguras
tenaga dan menguras “semangat” goweser. Kondisi turunan dan
tanjakan berlanjut hingga wilayah desa Pasir Angin kecamatan
Megamendung , dan jalur akan menanjak agak panjang dengan
kemiringan rendah hingga sampai di SD Pasir Angin 01, tepat
dipertigaan jalan bila kearah kanan menuju Jalan Raya Gadog –
Puncak dan kearah kiri menuju Gunung Geulis – Rainbow Hills dan
Bukit Pelangi ...... jangan khawatir masih ada warung mie di
sepanjang jalan ini dan menjelang akhir menuju SD Pasir Angin 01
akan ditemukan mini market AlfaMart yang cukup lengkap untuk
menambah perbekalan.
Dari pertigaan SD Pasir Angin 01, bila ingin tantangan lebih besar
untuk menguji “dengkul” ambil arah kiri menuju Gunung Geulis –
Rainbow Hills. …. tanjakan panjaaaaang dan lamaaaaaaa , dengan
jalur aspal super mulus , dan sebetulnya jalur ini harus diambil dari
arah berlawanan yaitu dari Rainbow Hill atau dari Bukit pelangi
sehingga goweser akan menikmati sensasi turunan yang cukup panjang . Mengingat keberadaan “new bie” didalam rombongan , maka
diputuskan ambil jalur kearah kanan keluar menuju Jalan Raya Puncak
kemudian belok kanan kearah Gadog kira-kira 1 km tepat di depan toko
oleh-oleh makanan khas Bogor Priangan Sari belok kanan menyeberang
jalan Puncak Raya dan masuk gang. Gang ini hanya cukup untuk satu
mobil dan menjadi alternatif bagi mobil-mobil dari Jakarta bila
setelah keluar pintu Tol Ciawi jalan kearah Gadog macet, oleh karena
itu kadang-kadang goweser pun harus terpaksa berhenti bila ada mobil
yang berpapasan ….. warung mie ? Jangan khawatir banyak sekali !
Perjalanan dari Gadog praktis akan menurun terus dan meskipun agak
gersang karena melewati pemukiman, namun suasana cukup menyegarkan
dengan latar belakang pemandangan gunung Salak diselingi gemericik
suara air kali kecil dipinggir jalan . Jalur ini akan memotong
sisi jalan tol Jagorawi – Gadog dan bertemu pertigaan, belok kanan
menyusuri pinggir jalan tol menuju ke arah Katulampa.
Pada ujung
jalan aspal pinggir tol ini , akan sampai di rest area dimana
terdapat papan reklame restoran Warung Sunda 2 masuk jalan tanah
kecil dan akan bertemu kembali dengan sungai Ciliwung dimana terdapat
jembatan kecil sejajar kolong jalan Tol seperti waktu berangkat.
Bila dipetakan, rute perjalanan seperti gambar gunting dimana titik
pertemuannya adalah di jembatan kecil yang melintas di atas sungai
Ciliwung dikolong jalan tol Jagorawi.

Dari titik perpotongan ini, ada dua pilihan kembali kejalan awal
sama seperti saat berangkat atau belok kanan menyusuri pinggir jalan
tol . Agar bervariasi , maka dipilih pilihan kedua yang mana kali
ini jalan tol ada disebelah kanan , mengikuti jalan aspal kecil
melewati perumahan Graha Pajajaran bertemu pertigaan jalan Sokaraja.
Dari pertigaan ini bila belok kanan masuk kekolong tol Jagorawi,
maka akan kembali menyusuri jalan tol (gantian sebelah kiri) dan akan bertemu dengan jalur Cimahpar – Pandawa Raya, jalur ini sudah pernah
dilewati saat gowes ke Sentul – Kilometer Nol Bukit Pelangi. Oleh
karena itu diambil jalan kearah kiri menuju jalan baru melewati
perumahan Mutiara Bogor Raya , lurus bertemu kembali dengan
pertigaan jalan dimana terdapat masjid /musholla diatas kali kecil
sama seperti saat berangkat namun dari arah berlawanan, kemudian
menyusuri jalan Bantar Kemang kembali dan melintas diatas Jalan Tol
Jagorawi
menyusuri Jalan Pandu Raya dan akhirnya usai sudah
perjalanan ini tepat pukul 11.30 WIB dengan 4 jam perjalanan dan
jarak kurang lebih 32 Km. Sebelum kembali ke “base camp” mampir
dulu ke Warung Pecel Madiun langganan di jalan Pandawa Raya menikmati
sepiring Nasi Pecel Madiun, ikan emas goreng, garang asem , jus jambu
dan tak lupa minuman favourite segelas “teh tawar panas” …..
wuiih nikmat sekaleeee. (selamat tinggal warung mie rebus ….....!)
saat musim hujan cobalah mampir ke bendung katulampa, bnyak turis lokal dan kru TV yg datang...
BalasHapusterima kasih infonya... siapa tahu bisa ikutan nampang shooting masuk TV
BalasHapuspak, boleh minta nomor hp, atau minta jasa memandu ke trek tersebut
BalasHapusTrims info nya nambah jalur buat kami Gowes RT8 VBI sukses Kang, kita tunggu jalur lainnya ciyuuu
BalasHapus