salam

salam

Senin, 03 September 2012

Anakku, Mudik Itu Juga Belajar “Kehidupan”

Untuk kesekian kalinya ,saya bersama keluarga pada tanggal 16 Agustus 2012 melakukan perjalanan “ritual” pisowanan tahunan pulang kampung alias mudik ke kota kelahiranku Kudus. Kebetulan saya dan isteri berasal dari kota yang sama sehingga kegiatan tahunan ini kita lakukan karena berakar dari kebutuhan menuju kota yang sama.


Walaupun sudah lebih dari sepuluh tahun kegiatan pulang kampung dengan kendaraan pribadi kita jalani bersama akan tetapi tetap saja perlu persiapan-persiapan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya
Mengingat bahwa saya adalah orang “gajian” yang diatur jam kerja nya oleh kantor, maka waktu mudik biasanya mendekati hari raya ied Fitri , paling cepat H-3 . Melakukan perjalanan mudik diwaktu-waktu tersebut membutuhkan tantangan yang lebih besar dibanding jauh-jauh hari sebelum hari raya karena kemacetan lalu lintas yang semakin meningkat, oleh karena itu saya selalu mempersipakan mental anak-anak dan isteri untuk menerima kondisi dan situasi sepanjang perjalanan dengan “legowo” sabar dan tidak menyesali keadaan yang ada.
Selain itu kesempatan mudik yang diiringi dengan kemacetan lalu lintas kita sikapi sekaligus sebagai perjalanan wisata, dilakukan dengan santai dan tidak terburu-buru ingin sampai ditujuan, syukur-syukur bisa lebih cepat lebih baik .
Sepanjang perjalanan, saya gunakan kesempatan bersama keluarga sebagai wahana “pendidikan” dan “pembelajaran” bagi anak-anakku tercinta dengan menunjukkan kejadian - kejadian yang ada disekeliling . Pendidikan bisa dimulai dengan menunjukkan kekuasaan dan keagungan Allah SWT terhadap keindahan alam ciptaan Nya ketika kita melewati jalan diwilayah pegunungan sekitar Wanayasa , Kabupaten Subang yang sejuk dan indah dengan pepohonan yang menghijau , sungai-sungai yang airnya mengalir deras ataupun sungai-sungai berbatuan yang berasal dari hulu gunung berapi.
Namun demikian bagi saya pendidikan yang sangat penting untuk saya berikan kepada anak-anakku adalah pendidikan budi pekerti manusia. Setiap kali melintas di jalan raya , kami sekeluarga dapat mengamati polah tingkah berbagai manusia dalam berlalu lintas. Pengendara kendaraan roda 4 (empat) yang tidak mematuhi rambu-rambu lalulintas senang main serobot, tidak mau tertib dalam antrian, saya jelaskan kepada anak-anakku sebagai gambaran sikap orang-orang yang egois ,mementingkan diri sendiri dan tidak peduli kepada kepentingan orang lain. Orang-orang semacam ini dalam kehidupan sehari-hari mungkin juga adalah orang yang tidak mau berbagi dengan orang lain. .. jangan engkau contoh orang semacam ini anakku !

Didepan kendaraan kami, nampak sepeda motor bebek pemudik dengan seorang anak balita yang duduk dijok diapit kedua orang tua mereka yang berboncengan, sementara barang-barang bawaanya di letakkan diantara selangkangan bapak nya yang mengendarai motor, sedangkan barang-barang lain diikat dibelakang jok motor yang diperpanjang dengan bambu sehingga dapat mengangkut lebih banyak. Anakku, bersyukurlah engkau, karena engkau tidak pernah melakukan perjalanan mudik dengan cara seperti itu. Engkau harus berempati dan menghargai usaha pemudik bermotor karena mereka telah melakukan perjalanan dengan cara apapun agar dapat bersilaturahmi sungkem kepada orang tua dikampung. Setelah setahun penuh menabung bekerja di Jakarta mereka ingin membagi kebahagiaannya dengan keluarga dikampung halamannya. Suasana mudik bermotor merupakan saat-saat yang membanggakan dan membahagiakan bagi mereka, saat – saat mempertontonkan keberhasil an bekerja dan saat-saat “ euphoria” pembebasan dari rutinitas mencari nafkah selama 11 (sebelas) bulan di Ibukota. 
Mungkin karena saking bahagianya, dalam mengendarai motor mereka lupa bahwa masih ada pengguna jalan selain dia, mereka lupa mempedulikan pengendara kendaraan beroda 4(empat) yang tertib seperti ayahmu Nak ! Main potong jalan dari kanan kekiri atau dari kiri kekanan, sambil menyalip memutar “throttle” gas lebar-lebar, sengaja menciptakan suara menderum mengagetkan . Meskipun demikian Jangan engkau rendahkan mereka anakku, siapa tahu uang yang mereka kumpulkan dari setiap tetesan keringat jauh lebih halal dibanding pemudik yang menggunakan Mitsubishi Pajero atau Toyota Alphard disebelahnya ! Ataupun dari uang ayahmu anakku !!

Melewati pantura memasuki kota Tegal dengan pemandangan kapal-kapal kayu yang tertambat, nampak beberapa nelayan yang sedang menurunkan hasil tangkapannya ditengah panas terik matahari yang menyengat , saya jelaskan kepada anak-anakku bahwa rezeki manusia telah diatur oleh Allah, ada yang menjadi nelayan, ada yang menjadi petani dan ada yang seperti bapakmu Nak menjadi pegawai kantoran ! , akan tetapi satu hal yang mesti kamu ingat bahwa dalam kehidupan mencari nafkah, yang paling penting adalah mencari penghasilan dengan cara yang benar , bukan penghasilan yang diperoleh karena merampas hak orang lain ! penghasilan karena diperoleh dari barang-barang yang diharamkan oleh Allah, percayalah bahwa Allah adalah maha Rahman dan Rahim , telah mengatur rezeki semua mahluk yang ada dibumi , jangan takut untuk tidak kebagian Anakku !!, asalkan engkau tetap bersemangat dan mau berusaha. Allah tidak akan mengubah nasib seseorang , apabila tidak ada usaha dari orang itu sendiri. .. camkan kata-kata ayahmu Nak !

Kemacetan bertambah, laju kendaraan semakin berkurang, nyaris beringsut pelan sepanjang 3 Kilometer, ada apakah gerangan ? Sumber kemacetan ternyata berada diujung jalan, karena kerumunan orang-orang yang sedang memandangi “sesuatu” , naudzubillahi min dzalik... ! Seseorang sedang tergeletak di jalanan, tertutup kertas koran Suara Merdeka sementara disebelahnya teronggok sepeda motor bebek yang ringsek, masya allah , itu adalah motor yang sama yang telah menyalib mobil kita, beberapa jam lalu dia masih sangat gagah diatas motornya, menderum lincah bergerak zig-zag, akan tetapi kini dia tidak bisa lagi mengendarai motor, tidak bisa lagi meneruskan perjalanan mudiknya, subhanallah maha suci Allah yang begitu perkasa menentukan “nasib” manusia, betapa kecil nya kita di hadapan Nya, sungguh amat tipis perbedaan antara kesenangan dengan kesedihan, kebanggaan dengan keterpurukan, kehidupan dengan kematian.

Subhanallah , perjalanan ini telah memasuki waktu sholat , mari anakku kita cari masjid sekalian melepas penat , meskipun kita diberi keringanan untuk menggabungkan dan meringkas dua waktu sholat , akan tetapi ambillah kesempatan pertama ketika kamu dapat , jangan engkau tunda-tunda lagi karena kita semua tidak akan tahu apa yang akan terjadi di waktu sesudahnya. Mari anakku kita berdoa lagi, senantiasa memohon ampun kepada sang Khaliq dan juga mendoakan ayahmu supaya di beri kekuatan dan kesabaran untuk mengendalikan mobil keluarga semata wayang ini agar dapat meneruskan perjalanan dengan selamat tanpa membahayakan pengendara lain dan juga tidak diganggu oleh keberingasan pengendara lain, sehingga engkau dapat segera berjumpa dengan Eyang Putrimu yang setia menunggu kita. Mudah-mudahan engkau cepat dewasa Nak, agar dapat berbagi dengan ayah untuk mengendalikan kendaraan ini kelak di waktu mudik mendatang.
Jakarta , 27 Agustus 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar